Day 12: Kebhinekaan di Thebarton

Pagi ini kami mendapat kesempatan berbincang dengan kepala sekolah TSC, mereke menyebutnya principal, Eva Kannis. Pada kesempatan ini kami diberikan informasi tentang manajemen sekolah. Tidak jauh berbeda memang, di sekolah ini juga ada assisten principal atau pembantu kepala sekolah. Mulai dari bidang kurikulum hingga pelayanan siswa. Banyak informasi yang kami dapatkan dari principal tapi yang menarik perhatian saya adalah kelas seusai pertemuan dengan kepala sekolah.

Thebarton memiliki sebuah program bernama New Arrival Program (NAP), program yang dikhususkan bagi para pelajar yang berasal dari luar Australia yang bermaksud bekerja atau melanjutkan sekolah di negeri kangguru ini. Salah satu pelajaran wajib bagi pesertanya adalah english.Di kelas ini benar-benar beraneka ragam ada siswa dari Kazakstan yang pernah menjadi guru lalu kemudian memutuskan untuk pergi ke Australia. Ada pula seorang siswa yang berasal dari Afganistan tapi tak pernah mengingat pernah hidup di sana karena sejak kecil ia tinggal di Iran. Safari, seorang siswa dari Congo. Siswa dari Vietnam juga ada di kelas ini. Dan yang paling menarik perhatian adalah seorang pemuda Afganistan yang pernah tinggal di Indonesia yang juga cukup fasih berbahasa Indonesia.

Hari ini kami diajak terlibat secara langung bersama siswa. Kelas ini sedang mengajarkan debat pada siswanya, Narelle Johnson mengajak kami berpartisipasi untuk ikut berdiskusi dalam grup kecil bersama anak-anak ini. Luar biasanya adalah mereka semua dengan semangat mengajak kami bergabung, bahkan mereka sangat menghargai kami sebagai guru dari negara lain. Anak-anak ini sangat bersemangat dalam diskusi, Muhammad si pemuda asal Afganistan yang lama tinggal di Iran dan Safari terlihat sangat bersemangat sekali mengajak saya berdiskusi dalam kelompok mereka. Kami dengan bahas inggris yang tidak terlalu lancar asik berdiskusi mengenai tema yang ditentukan Narelle hingga waktu berakhir. Di akhir siswa ini dengan bersemangat ikut berfoto bersama kami dan Narelle.

Usai kelas bahasa inggris seharusnya kami mengunjungi kelas PC Gaming, namun karena guru pengajarnya sedang sakit dan hanya ada guru pengganti kami diajak melihat kelas lain. Setelah kesana kemari kami akhirnya diajak ke Gymnasium untuk mengamati kelas Physic Education, di Indonesia biasa disebut pendidikan jasmani. Kebetulan kelas PE ini kelas untuk siswa NAP, sehingga menarik pula untuk diamati. Sama seperti kelas bahasa ingris NAP kelas ini juga beragam. Siswa dari berbagai etnis ada di kelas ini. Kelas PE ini tidak bertujuan agar anak dapat berolahraga namun justru agar siswa mampu meningkatkan kemampuan bahas inggrisnya sehingga kelas ini selain ada guru PE juga ada guru bahasa inggris.

Di awal pembelajaran Harley, guru PE mengajak siswa untuk melempar Dart, permainan melempar panah kecil ke papan sasaran, tujuannya agar siswa mulai berinteraksi dengan temannya. Kami agak heran juga dengan pakaian yang dikenakan siswa, mereka tidak mengenakan pakaian olahraga. Bagi harley yang penting siswa mau bernteraksi dengan teman malalui olahraga. Usai bermain dart siswa mulai diajak mencoba dribling bola basket hingga mencoba shooting. Semua siswa tertawa lepas. Guru tidak mengajarkan teknik dribling atau shooting, karena pelajaran PE untuk NAP memang tidak bertujuan untuk melatih siswa agar dapat menggunakan teknik dengan baik. Pelajaran diakhiri dengan memutar video yang diambil Harley saat pelajaran berlangsung.

Suasana kebhinekaan mungkin hanya ada di beberapa sekolah di South Australia. Beruntung kami dapat menyaksikan kebhinekaan dan kebersamaan di negara yang mungkin tidak mengenal semboyan Bhineka Tunggal Ika.

IMG_1039

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *